TERAPI ANAK YANG TIDAK MAU SEKOLAH

Monday, 11 March 2024
Written by Admin Akademi Psikoterapi
Expertise by Danang Baskoro, M.Psi., Psikolog

Saya tidak tahu harus mulai dari mana dengan klien anak ini. Mulutnya diam dan hanya sesekali tersenyum. Sudah berminggu-minggu dia selalu merengek jika di antar ke sekolah.

Namanya Rudi. Sudah kelas 6 sekarang namun masih sulit punya inisiatif. Bangunnya siang, makannya harus mie instan, maunya main game terus.

Bapak dan Ibu Rudi mengeluhkan perilaku Rudi yang semakin menjadi-jadi saat marah. Karena saat itu Budi sudah kelas 6 dan sudah satu bulan tidak masuk sekolah, Guru dan orangtua khawatir karena beberapa bulan lagi sudah memasuki ujian akhir.

Konseling ini adalah kali ketiga. Sebelumnya hanya dengan orangtuanya karena saya tidak menemukan gejala trauma yang tadinya diduga orangtua karena Rudi mendadak tidak mau sekolah. Oleh karenanya saya berpikir bahwa penyebabnya adalah murni pengasuhan.

Sebenarnya Bapak Ibu Rudi lembut sikapnya dan sangat menyayangi anaknya. Namun nampaknya karena begitu sayangnya, akibatnya apapun yang menjadi keinginan Rudi selalu dituruti. Saat Ayahnya pulang bekerja dari luar kota, selalu saja membelikan mainan mahal. Begitu juga Ibunya yang tidak pernah melarang jika anaknya berperilaku berlebihan. Akibat pola asuh yang demikian, Rudi biasa mengamuk saat keinginannya tidak dituruti, dan saat ini ia mengamuk saat dibangunkan untuk pergi kesekolah. Saat Rudi mengamuk, ia sampai memukul ibunya bertubi-tubi. Dan herannya, ibu Rudi diam saja.

Sesi sebelumnya saya minta ibunya untuk bersikap tegas. Awalnya ibunya mengiyakan, namun akhirnya dia bertanya, "Kalau saya hukum, apakah anak saya tidak dendam pada saya?", Saya bertanya darimana ia mendapatkan pemahaman seperti itu. Ternyata dari salah satu ceramah di televisi.

Ibu Rudi berpendapat bahwa pola asuh itu harus lembut, penuh kasih sayang, dan tidak boleh berkata keras. Padahal perkiraan saya, pertemuan ketiga ini seharusnya menghasilkan dampak yang signifikan jika orangtua Rudi tegas saat mendidik. Namun program pengasuhan yang dibicarakan sebelumnya hanya bertahan tiga hari, karena secara diam-diam ibu Rudi tidak melakukan yang telah disepakati.

"Sepertinya anda salah persepsi deh bu?! yang tidak boleh itu menghukum anak secara berlebihan. Menghukum karena emosi, bukan karena memberikan konsekuensi, itu yang gak boleh. Menghukum itu boleh-boleh saja, bahkan dalam agama kita, anak yang tidak mau beribadah, kita boleh kok pukul kakinya. Bukan karena kita melampiaskan emosi kita. Tapi agar anak itu disiplin". Saya meluruskan.

Sang ibu melihat saya dengan pandangan yang nanar. Antara dapat pencerahan dan agak kesal dengan kata-kata yang "menyinggung".

Intervensi Kepada Rudi

Saya berikan dua kertas kepada anak tersebut. Saya ajak dia ngobrol tentang cita-citanya. Ingin jadi apa saat dia besar nanti. Dia bercerita ingin menjadi seorang polisi.

"Kenapa ingin jadi polisi mas"

"Keren, bisa nangkap maling"

"Nangkap maling agar apa?"

"Biar malingnya masuk penjara"

"Karena...?"

"Karena nyuri uang.."

"Apalagi...?"

"Aku bisa naik mobil keren.."

"Mobil polisi...yang wiuw..wiuw itu?"

"Iyaa..."

Setelah dialog ini saya minta ia untuk menggambar polisi dengan lengkap. Bagaimana bajunya, sepatunya dan pistolnya. Ia menggambar dengan sangat khusyuk sekali selama 15 menit plus diwarnai. Saya melihat wajahnya sumringah dan sesekali senyum. Ini adalah tanda bahwa anak berada dalam kondisi trance. Minatnya dan emosinya membawanya kepada akses ke pikiran bawah sadarnya sendiri.

Selesai menggambar, lalu saya tanya kembali..

"Polisi itu uangnya banyak endak sih"

"Iya banyak dong.."

"Kamu mau beli apa?"

"Beli rumah buat mama.."

"Apa yang dikatakan mama kekamu kalau kamu bisa belikan rumah?"

"Hebattt.."

"apa yang dikatakan temen kamu kalau kamu sudah jadi polisi.."

"kamu kereenn ya.."

"Apa yang kamu katakan pada dirimu sendiri kalau kamu jadi polisi?"

"Aku bisa..." (tersenyum..)

Setelah selesai menggambar, saya minta ia untuk menjelaskan caranya untuk mencapai cita-cita itu. Ia menjelaskan, bahwa harus belajar yang rajin, ngerjain PR, berbakti dengan orangtua dan banyak lainnya.

Lalu saya menanyakan.."kalau misal kamu tidak belajar, tidak sekolah dan absen terlalu lama...kira-kira di masa depan kamu jadi apa? di rumah santai saja..main game saja...tiduran saja...nanti bisa kamu bayangkan jadi apa?"

Dia hanya diam dan pandangannya kosong. Segera saya tepuk pundaknya, dan mengatakan.."nah sekarang kamu gambar.."

Dia langsung menggambar. Gambarnya seorang laki-laki yang memegang buku yang bergambar sponge bob.

"Gambar orang lagi apa ini mas?"

"Lagi jualan buku..."

"Oh jadi dia jualan buku ya? apa ini kerjaannya?"

"Iya..dia kerja jualan buku.."

"Uangnya banyak atau dikit?"

"Dikit.."

"apa yang dikatakan orangtua kamu kalau liat kamu begini?"

"Kecewa..sedih.."

"Apa yang dikatakan teman-teman kamu?"

"Uh...kasian.."

"Apa yang kamu katakan pada diri kamu sendiri?"

"aku bodoh...ga bisa apa-apa..miskin.."...

Lalu saya sodorkan kedua kertas itu didepannya. “Nih lihat gambar yang polisi ini misalkan temen kamu, dan yang jual buku ini kamu”. (saya memperagakan tokoh polisi dan penjual buku sedang berdialog).

"Lho Rud, kamu lagi ngapain..."

"Aku jualan buku..kamu jadi polisi ya sekarang..?"

"Iya. Aku jadi polisi sekarang...lho kamu kok kerja jualan buku di lampu merah gini...kok bisa?"

"Iya, karena aku dulu males...kalau dibangunin susah...kalau dipaksa bangun malah mukul ibukku...aku nakal dulu...jadi hidupku susah begini.."

"Owalah...gitu ya Rud. Kamu kan dulu sudah aku nasehati untuk rajin, tapi kayaknya kamu gak mau,,,tapi yawes..nasi sudah jadi bubur...semoga kamu laris ya jualannya...nih aku kasih uang sepuluh ribu...."

(Anak itu menerawang dengan wajah yang nampak cemas..)

"Mas, gimana? kamu mau milih yang polisi atau yang jualan buku?"

"Yang ini aja..." (nunjuk gambar polisi)

"Kan harus belajar, harus sekolah...kan gak enak.." saya menantangnya..

"Iya, harus belajar...gak apa-apa"

"Jadi mas mau belajar?"

"Iya.."

"Ngapain belajar mas? enakan tidur aja di rumah...main game aja dirumah...daripada di sekolah bikin pinter...kan gak enak...enakan bolos...itu muantaab kan?". Saya sengaja mengatakan hal ini agar ia melakukan "defens" mempertahankan pendapatnya bahwa belajar itu penting.

"Endak, saya belajar aja.."

"Ngapain lho mas belajar?! enakan malas-malasan..ntar kan jadi penjual buku di lampu merah...enak kujanan..seger...uangnya jg gak banyak...santaaiii.."

"Endak, saya mau belajar...." (wajahnya mulai cemas..)

"Oke kalau begitu mas. Mas mau belajar ya sekarang, biar jadi polisi, bisa nangkep maling, biar bisa naik mobil polisi, biar bisa belikan mama rumah...nah sekarang mas tulis di atas gambar penjual buku ini..dengan kata-kata..ini bukan saya....dan di atas gambar polisi ini...ini sayaa..."

Dengan cekatan ia menulis lalu wajahnya nampak sedikit lebih lega. Saya meminta dua gambar tersebut untuk ditempelkan di dinding kamarnya.

Saya mengantarnya keluar ruangan, dan tersenyum pada bapak dan ibunya yang sudah menunggu didepan pintu.

Saya menggunakan prinsip dasar asosiasi-disosiasi untuk memisahkan state yang negative dan positif. Klien saya minta untuk menggambar cita-citanya (polisi), lalu saya memberikan pertanyaan yang membuat ia menceritakan dengan lebih terperinci, dari sinilah ia mulai mengalami “trance” yaitu dengan state yang positif.

Setelah itu saya minta ia menggambar bayangan dampak yangakan ia tanggung saat ia tidak belajar dan bolos sekolah. Proses ini untuk mengakses state yang tidak diinginkan. Pertanyaan yang rinci penting diberikan, untuk mengelisitasi (elicit) submodality yang ada dipikiran klien.

Menggunakan teknik Perceptual Position yang sudah dimodifikasi, saya “memainkan” state positif dan negative seolah-olah dialog. Lalu menggunakan teknik Sleight of Mouth yaitu gabungan antara meta model dan milton model, bertujuan untuk menghancurkan limiting belief seseorang, sekaligus merekatkan dengan belief yang ingin kita tanam kepadanya.

Anda bisa mengamati bagaimana dialog saya arahkan kepada - yang tadinya ia berpendapat bahwa malas itu boleh, menjadi malas itu tidak boleh.

Nah, saya tidak menasehati disini, karena nasehat tidak akan banyak gunanya. Pada prinsipnya, orang itu akan semakin kuat prinsip "salahnya" jika kita nasehati. Dia semakin ngeyel, bukan karena tidak sadar dia salah, hanya karena ingin mempertahankan diri saja. Itulah manusia.

Anak-anak masih belum terlalu kuat pikiran abstrak konseptualnya, sehingga kita perlu media-media yang kongkrit untuk memfasilitasi cara berpikirnya. Kita bisa gunakan gambar, alat bermain atau lainnya.

Intervensi kepada Orangtua

Dalam terapi ini saya juga fokus untuk melakukan intervensi kepada orangtua karena permasalahan sebenarnya lebih besar bukan kepada anak, akan tetapi kepada pola asuh yang tidak konsisten. Reinforcement atau penguat perilaku diberikan pada perilaku-perilaku yang malah tidak diharapkan.

Sedikit banyak hal ini dipengaruhi oleh persepsi yang kurang tepat terhadap pengasuhan yang benar kepada anak. Persepsi yang kurang tepat ini dibentuk oleh "riwayat" orangtua yang memiliki kisah tertentu, yang kemungkinan di intepretasikan secara tidak tepat oleh mereka.

Tidak ada yang instan dalam membentuk anak. Orangtua juga perlu berbesar hati untuk juga mengubah diri mereka sendiri. Jika semuanya sudah terlambat, maka orangtua sebenarnya memanen apa yang mereka telah tanam.

Saya mendapatkan data bahwa Ayah Rudi kesulitan bersikap tegas, karena ia selalu teringat bahwa sewaktu kecil dulu hidupnya susah. Melalui dasar berpikir ini membuat ia tidak mau anaknya mengalami keadaan susah sepertinya dulu.

Keadaan seperti ini jelas, bahwa pola asuh yang tidak berjalan dengan baik karena adanya hambatan internal dari orangtua. Oleh karenanya saya berusaha membantu Ayah Rudi untuk memahami hambatannya ini.

"Pak, bayangkan di depan anda adalah Rudi yang usianya sudah 25 tahun. Dia sudah lulus kuliah, pekerjaannya mapan, dia hormat dengan orangtua, taat kepada agama"

"Bapak bayangkan dia didepan Bapak. Bayangkan ia menasehati bapak, mengenai apa yang harus bapak lakukan saat Budi yang berusia 11 tahun tidak mau sekolah..."

Bapak Tejo (Bapaknya Rudi) nampak serius membayangkan, matanya terpejam dan mulutnya menutup rapat. Lalu ia mengernyitkan dahi sambil mengangguk..

"Saya mengerti Pak". Kata Bapak Rudi kepada saya.

Tujuan saya meminta Pak Tejo membayangkan Rudi yang sudah dewasa adalah agar ia bisa memisahkan dirinya dengan emosinya dan perasaannya sendiri. Selain itu dengan melakukan hal ini, maka cara berpikir Ayah Rudi akan lebih terbuka dari ide-ide yang bisa dilakukan agar Rudi menjadi anak yang patuh. Salah satu presuposisi NLP mengatakan bahwa manusia memiliki sumberdaya internal yang dibutuhkan untuk sukses (People Have the Internal Resources They Need to Succeed).

Regard,
Danang Baskoro, M.Psi., Psikolog

Artikel Terkait

Selalu ada artikel menarik di Akademi Psikoterapi untuk anda